Harian Berita – Cuaca ekstrem, banjir, longsor, angin kencang hingga gelombang tinggi melanda Nusa Tenggara Timur dalam lima hari ini.
Ini semua dumulai sejak 30 Maret hingga 4 April 2021, di mana cuaca di beberapa kecamatan dan kabupaten NTT memang tak sedang bersahabat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan menyebutkan ada 41 orang yang meninggal karena hal ini.
Tidak hanya itu, tagar #PrayforNTT pun menjadi trending topicĀ di Twitter Indonesia hingga hari ini, Senin (5/4/2021).
Apa saja faktor penyebab badai dan banjir di NTT ?

Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Riefda Nofikarany mengatakan jika hujan intensitas lebat hingga ekstrem sangat berpengaruh terhadap bencana ini.
“Telah terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yaitu di atas 150 mm di wilayah NTT selama empat hari,” kata Riefda, Senin (5/4/2021).
Diberitakan jika curah hujan tertinggi selama dua hari berturut-turut terukur di Stasiun Meteorologi Eltari sebesar 241 mm dan 306 mm.
Kemudian di Stasiun Klimatologi Kupang yaitu sebesar 230,2 mm dan 332.1 mm.
Oleh karena hal tersebut menyebabkan bencana hidrometeorologis, yaitu banjir bandang angin kencang, dan tanah longsor di sebagian besar wilayah NTT.
Disebutkan ada 3 faktor pemicu cuaca ekstrem berupa hujan intensitas lebat hingga ekstrem di NTT:
1. Badai Tropis Seroja

Riefda menjelaskan, faktor penggerak cuaca dominan yang mempengaruhi antara lain Badai Tropis Seroja yang mulai tumbuh sebagai bibit badai tropis 99S pada Jumat, 2 April 2021, di sekitar Laut Sawu, NTT.
Bibit 99S ini bergerak ke arah Timur – Tenggara dengan ondisi suhu muka laut di sekitar Laut Sawu yang hangat mencapai 30 derajat celcius. Hal tersebut menjadi sumber asupan utama dari bibit badai tropis untuk tumbuh menjadi badai tropis.
“Sejak tumbuh sebagai bibit badai tropis, sistem ini sudah menyebabkan terjadinya hujan lebat bahkan hingga ekstrem yang disertai angin kencang di wilayah NTT,” ujar Riefda.
Di samping itu, siklon tropis ini juga menyebabkan terjadinya gelombang tinggi di wilayah perairan sekitar sistem badai tropis ini, seperti Laut Sawu, Laut Timor dan Selat Sumba.
Siklon tropis ini berdampak secara langsung dan puncaknya pada tanggal 4 – 5 April.
Hal ini bisa dilihat denganĀ curah hujan dalam kategori ekstrim tercatat oleh BMKG lebih dari 150 mm di beberapa stasiun di Nusa Tenggara Timur.
2. Kelembapan Udara
Yang menjadi faktor pemicu berikutnya adalah kondisi kelembapan udara yang terjadi di sekitar wilayah tersebut.
Kondisi kelembaban udara di atmosfer sekitarnya yang tinggi dimulai dari lapisan bawah hingga atas. Di mana kelembapan udara ini mendukung pertumbuhan badai hingga mencapai kategori badai tropis pada hari Senin 5 April 2021 pukul 01.00 WIB atau 03.00 WIT.
3. Kecepatan angin
Yang ketiga adalah kecepatan angin permukaan. Berdasarkan catatan BMKG, kecepatan angin permukaan maksimal adalah 55 knot per 100 kilometer per jam.
Namun, tinggi gelombang yang tercatat adalah mencapai 7 meter.
Dengan kondisi tersebut tidak disarankan untuk melakukan aktivitas penerbangan dan penyebrangan ke wilayah tersebut saat siklon tersebut melintas.
